Tugumalang.id – Siapa sangka, limbah kelapa sawit yang biasanya menumpuk dan mencemari lingkungan bisa diolah kembali menjadi bahan bakar pesawat (avtur) hingga bensin berkategori low-carbon. Gagasan inovatif inilah yang membawa tim mahasiswa Teknik Kimia S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menyabet Juara 3 dalam ajang Renewable Energy Action Competition (REACT) 2026 di Telkom University, Bandung, pada Sabtu-Minggu (17–18/10/2026).
Kompetisi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Society of Renewable Energy (SRE) Telkom University ini mengusung tema “Green Energy Revolution: Transforming Crisis Into Opportunity”. Tim ChENergix Teknik Kimia ini beranggotakan Firmanta Waruwu, Azareel Sharon Ronauli Sihombing, dan Bunga Cinta Lestari.
Ajang ini diikuti oleh 35 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Setelah melalui tahap seleksi berkas, dipilih 5 tim terbaik untuk maju ke babak final presentasi.
Baca Juga: ITN Malang Perluas Pemberdayaan Masyarakat Lewat Inovasi Teknologi
ITN Malang terpilih berdampingan dengan kampus-kampus besar seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (Unpad), dan Telkom University.

Di bawah bimbingan dosen Dr. Ir. Jimmy, ST., MT., MM., mereka mengusung karya ilmiah bertajuk “AQUA-FUEL LOOP: Integrasi Hydrothermal Liquefaction – Wet Oxidation Berbasis POME dan TKKS untuk Produksi Biofuel Sirkular dan Rendah Karbon”.
Inovasi AQUA-FUEL LOOP: Solusi Limbah Sawit Berbasis Circular Biorefinery
Dijelaskan Firmanta Waruwu, ide ini berawal dari kepeduliannya terhadap melimpahnya limbah perkebunan kelapa sawit di daerah asalnya, Sumatera Utara. Selama ini, limbah cair (Palm Oil Mill Effluent / POME) dan limbah padat berupa Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) belum diolah secara maksimal. POME biasanya hanya diubah jadi biogas yang rawan bocor, sedangkan TKKS sering kali dibakar hingga memicu polusi udara.
Baca Juga: Content Creator ITN Malang Juara 2 Lomba Reels Lingkungan
Lewat inovasi bertajuk AQUA-FUEL LOOP, tim ITN Malang menawarkan cara baru yang lebih ramah lingkungan. Mereka memanfaatkan teknologi pemrosesan berbasis suhu dan tekanan tinggi (Hydrothermal Liquefaction/HTL) untuk mengubah campuran limbah basah dan padat tersebut menjadi minyak mentah hayati (biocrude) tanpa perlu dikeringkan terlebih dahulu.
Minyak ini nantinya bisa diolah lanjut menjadi bahan bakar ramah lingkungan, seperti avtur untuk pesawat hingga bensin.
Menariknya, aqueous phase atau fase air yang kaya senyawa organik dari proses HTL tidak dibuang begitu saja. Tim mengolahnya bersama POME dan oksigen dalam proses oksidasi basah (Wet Oxidation/WO) untuk mengoksidasi senyawa organik sekaligus menghasilkan panas.
Panas yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan kembali untuk pemanasan awal slurry TKKS, membentuk sistem sirkulasi energi tertutup (closed-loop system) yang berpotensi meningkatkan efisiensi energi dan menurunkan emisi karbon dalam produksi biofuel.
Firman akrab disapa menyatakan, konsep yang mereka susun saat ini sudah dirancang hingga skema validasi empat tahap, termasuk pengujian skala laboratorium.
“Harapan kami, karya ini tidak berhenti di sini. Semoga ada dukungan fasilitas laboratorium maupun pendanaan, baik dari pihak kampus maupun pemerintah, agar bisa direalisasikan menjadi riset nyata untuk menekan ketergantungan kita pada bahan bakar fosil,” harapnya saat ditemui di Kampus 2 ITN Malang bersama tim, Rabu (21/10/2026).
Semangat Kolaborasi Lintas Generasi
Bagi Firman, capaian ini menjadi penebus kegagalan sebelumnya setelah di perlombaan-perlombaan lalu hanya bertahan sebagai top 5 finalis.
“Kemarin itu sempat mencari info lomba di Instagram dan menemukan ajang REACT SRE Telkom University. Dari tiga cabang yang dibuka, kami pilih esai mahasiswa karena pas dengan latar belakang keilmuan kami,” cerita mahasiswa semester akhir ini.
Uniknya, Firman sengaja menggandeng Azareel dan Bunga yang masih duduk di semester 3. Kedekatan mereka terjalin karena sama-sama aktif di Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK), Departemen Informasi dan Komunikasi.
“Dari awal masuk kuliah, saya pengen banget ikut lomba buat menambah pengalaman. Pas diajak Mas Firman, langsung coba ikut. Untuk bagian penulisan esai di-handle Mas Firman, sedangkan kami berdua fokus bantu menyusun poster, PowerPoint, dan mendalami materi,” ungkap Azareel.
Sesi presentasi dan tanya jawab di hadapan dewan juri tidak dimungkiri menyisakan ketegangan tersendiri bagi para anggota tim.
“Yang paling sulit tentu menjawab pertanyaan juri yang di luar dugaan, terutama saat ditanya soal kelemahan konsep HTL yang kami ajukan. Apalagi kami masih belajar materi dasar di semester awal, jadi sempat grogi dan nge-blank sedikit,” imbuh Azareel jujur.
Hal senada dirasakan Bunga Cinta Lestari yang baru pertama kali mencicipi kompetisi Essay tingkat nasional. “Agak speechless dan awal-awal sempat pesimis karena merasa belum memberikan yang maksimal. Tapi begitu diumumkan dapat Juara 3, senang sekali. Ke depan kalau ada peluang lomba lain, saya pengen coba ikut lagi untuk menambah pengalaman,” kata Bunga.
Dukungan Kampus dan Harapan Pengujian Laboratorium
Dosen Pembimbing, Dr. Ir. Jimmy, ST., MT., MM., mengapresiasi kejelian anak didiknya dalam merumuskan gagasan transisi energi ini. Menurutnya, prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa mampu mengubah pengetahuan menjadi gagasan inovatif untuk menjawab tantangan energi dan lingkungan.
“Melalui AQUA-FUEL LOOP, Tim ChENergix mengusulkan integrasi produksi biofuel, pengolahan residu cair, dan pemulihan energi. Saya mengapresiasi kerja keras, kreativitas, dan kolaborasi seluruh anggota tim. Harapannya, gagasan ini berkembang menjadi riset terukur yang memberi manfaat bagi industri dan masyarakat,” puji Jimmy.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis ITN Malang
Editor: Herlianto. A




































