Tugumalang.id – Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar kegiatan Halaqoh Diniyah dengan mendatangkan Kyai Sableng atau KH Abdullah Sam hingga Cak Suro di Gedung Bundar Unisma, Kamis (1/10/2026). Halaqoh Diniyah menjadi bagian dari rangkaian pembentukan karakter Ahlussunnah Wal Jamaah di era digital pada mahasiswa baru.
Diketahui, pembukaan kegiatan diawali dengan pengajian yang disampaikan Kyai Sableng, seorang ulama yang juga tercatat sebagai mahasiswa program doktor di Unisma. Usai pembukaan dan penyampaian materi utama, para mahasiswa dibagi ke dalam dua kelompok besar untuk mengikuti sesi pendalaman materi lebih lanjut.
Baca Juga: Kemeriahan Closing Oshika Maba Unisma 2026, Rektor Kukuhkan Ribuan Mahasiswa Baru Jadi Generasi Berkelas Dunia
Rektor Unisma Prof. Drs. H. Junaidi Mistar, M.Pd., Ph.D. menjelaskan bahwa menjadi rangkaian kegiatan untuk mahasiswa baru usai menjalani 3 hari masa Oshika Maba 2026. Halaqoh Diniyah bertujuan untuk memperdalam dan memperkuat fondasi karakter keislaman mahasiswa berbasis ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

“Lewat kegiatan ini, kita mengembangkan lebih lanjut pondasi-pondasi penguatan karakter religiusitas, karakter keIslaman Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah kita,” ungkapnya.
Sementara dalam sesi materi, Kiai Abdullah Sam menyoroti pentingnya kecerdasan digital (Digital Quotient/DQ) di samping kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ). Menurutnya, jaringan sosial (networking) dan kecerdasan berorganisasi merupakan kunci penting dalam meraih kesuksesan.
“Kecerdasan itu tidak hanya IQ. Kalau IQ saja tanpa kecerdasan emosional dan sosial, sulit jadi orang. Bagaimana mendapatkan networking, mendapatkan jaringan dan teman, karena itu sumber rezeki dan jabatan,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi informasi. Menurut dia, lembaga pendidikan maupun individu yang mengabaikan promosi media sosial dan penguasaan coding dalam era ekonomi internasional akan tertinggal.
“Kalau kita tidak segera menuju ke DQ (digital quotient), ya sama saja kita menggali kuburan sendiri,” tegas Kiai Abdullah Sam.
Baca Juga: OSHIKA MABA 2026 Unisma Kenalkan 17 SDGs kepada Ribuan Mahasiswa Baru
Ia juga mengingatkan bahwa mahasiswa dan akademisi memiliki tiga tanggung jawab utama yang harus seimbang. Mulai tanggung jawab teologis (theological responsibility), tanggung jawab kemanusiaan (human responsibility) dan tanggung jawab ekologis (rcological responsibility).
“Ini harus satu kesatuan, tidak bisa sendiri-sendiri. Kalau kita baik dengan Allah, tapi bencana longsor dibiarkan, ya tidak bisa, harus seimbang,” tambah dia.
Menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks, Kiai Abdullah Sam mendorong mahasiswa Unisma untuk berpikir jauh ke depan (future-oriented) dan berani melakukan lompatan inovasi. Menurutnya, cara berpikir biasa maupun sekadar out of the box tidak lagi cukup.
“Hari ini kalau tidak melompat jauh, tidak cukup yang namanya out of the box. Tapi harus out, out, out of the box,” jelasnya.
Ia menilai kecerdasan buatan (AI) dan coding adalah pondasi utama masa depan yang wajib dikuasai oleh seluruh jenjang pendidikan, mulai dari TPQ, Madrasah, Pesantren, hingga Perguruan Tinggi.
“Masa depan adalah AI, dan dasarnya adalah coding. Tidak boleh kampus, MI, MTs, Aliyah, TPQ, Diniyah, maupun pesantren meninggalkan coding. Karena itu dasar pokok masa depan,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A































