Malang, Tugumalang.id – Ajang Mesin S-1 ITN Malang Modifikasi Kontes 2026 kembali digelar setelah sempat vakum. Kontes yang berlangsung di Aula Kampus 1 ITN Malang, Selasa (15/9/2026), itu diikuti 70 modifikator dari berbagai daerah.
Peserta tidak hanya berasal dari Malang Raya. Modifikator juga datang dari Tulungagung, Jombang, Trenggalek, Surabaya, Pati, hingga Yogyakarta.
Panitia sebelumnya menargetkan 50 unit motor. Namun, jumlah peserta yang mendaftar mencapai 70 modifikator.
Ketua Pelaksana Kegiatan Dibyokaryono Timoteus mengatakan ajang tersebut kembali digelar untuk menghidupkan wadah kreativitas otomotif sekaligus memberikan wawasan kepada pelajar SMA/SMK mengenai perkembangan dunia otomotif.
Baca juga: Mahasiswa Teknik Mesin ITN Malang Raih Juara Kontes Modifikasi, Lepas Penat Skripsi dengan Naik Podium
Persiapan kegiatan dilakukan sekitar tiga minggu oleh tim mahasiswa Teknik Mesin S-1. Peserta bahkan masih berdatangan hingga siang hari meski proses loading kendaraan sudah dimulai sejak malam sebelumnya.
“Acara ini untuk menyalurkan hobi dan kreativitas. Ajang modifikasi seperti ini dulu di Prodi Teknik Mesin pernah ada dan lama vakum, jadi kami berusaha menghidupkannya kembali. Tantangan teknis pasti ada, seperti mencari peserta, sponsor, dana, sampai mengurus perizinan ke Dishub dan Polsek,” ungkap Timo akrab disapa.
Kontes tersebut mempertandingkan enam Main Class dan 35 kategori Meet Up Class. Kelas yang dipertandingkan antara lain CB, GL, MP, Tiger Modifikasi, W9 Style (Walisongo Style), 2/4 Tak Restorasi Fashion, Pelajar (Budget SMA/SMK), Racing Style, serta Pure Daily Use.
Baca juga: Buka Peluang Kuliah S3 Remote hingga Join Riset, ITN Malang Sambut Hangat Kunjungan Delegasi UTM Malaysia
Kategori pelajar menjadi salah satu kelas yang banyak diminati peserta.
Modifikasi Motor Dinilai dari Fungsi dan Keselamatan
Nanda dari Ototrend yang menjadi juri mengatakan kualitas motor yang dipamerkan cukup beragam. Menurut dia, tren modifikasi saat ini juga mulai mengarah pada gaya harian yang fungsional dengan tetap memperhatikan keselamatan berkendara.
“Kualitasnya fifty-fifty, ada yang bagus, menengah, sampai yang biasa. Tapi di beberapa kelas karyanya rapi-rapi dan bagus. Untuk kelas pelajar atau harian, regulasinya wajib fungsional dan layak jalan. Kelengkapan seperti spion, pelat nomor, dan ukuran ban tetap diperhatikan. Ajang seperti ini lebih ke memberi inspirasi teknis dan tempat sharing buat peserta yang ingin mengejar event berikutnya,” tuturnya.
Nanda mengapresiasi pendataan peserta yang dilakukan panitia. Namun, dia menyarankan penomoran scrut atau pemeriksaan teknis dibuat lebih sistematis pada penyelenggaraan berikutnya.
Dia juga menyarankan kegiatan digelar pada akhir pekan agar jumlah modifikator dan penonton dapat lebih banyak.
Honda GL100 1982 Direstorasi hingga Rp50 Juta
Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah Muhammad Syahruzzidan dari Jombang. Dia membawa Honda GL100 keluaran 1982 yang telah direstorasi secara menyeluruh.
Motor tersebut digunakan untuk mengikuti kelas CB, GL, Megapro, Tiger Modifikasi dan Meet Up Class. Proses restorasi dari bahan hingga menjadi motor modifikasi menghabiskan biaya sekitar Rp50 juta.
“Ini full restorasi dari bahan sampai kayak gini. Sparepart-nya pakai full moge (motor gede) dari Harley yang di-PNP-kan (plug and play). Konsep baru ini perdana turun lagi di ITN Malang semenjak ganti cat putih-biru,” kata Zidan yang memboyong tim support rekan kuliah dan adiknya.
Zidan mengaku awalnya mengikuti kontes hanya untuk mencoba sejak tahun lalu. Setelah beberapa kali meraih juara, dia kemudian melakukan sejumlah upgrade pada motornya.
Motor tersebut dibawa menggunakan mobil blind van tertutup. Cara itu dilakukan untuk menjaga kondisi cat dan komponen yang sudah dipoles tetap bersih dari debu sebelum dipajang di area pameran.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis ITN Malang
editor: jatmiko































