Tugumalang.id – Siapa sangka gunungan limbah beracun dari industri galangan kapal bisa diubah menjadi produk bernilai jual tinggi. Di tangan Dr. Ir. Nanik Astuti Rahman, ST. MT. IPM., dosen Teknik Kimia S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), limbah sandblasting (sisa pembersihan bodi kapal) yang biasanya menumpuk jadi masalah lingkungan kini disulap menjadi silika gel murni.
Inovasi keren ini sukses mendatangkan dana segar lewat Hibah Hilirisasi Riset Inovasi Komersialisasi dari Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan, Ditjen Risbang Kemdiktisiantek untuk masa multi-tahun (2025–2026).
Limbah sandblasting masuk dalam kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang mengandung banyak logam. Di PT Dok Pantai Lamongan (PT DPL), mitra strategis ITN Malang, jumlah limbah ini luar biasa melimpah.
Baca Juga: Pemkab Mahakam Ulu Percayakan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Dukung Penataan Ruang Long Lunuk ke ITN Malang
Setiap satu proses sandblasting saja membutuhkan sekitar 100 kg silika, dan sisa pengerjaannya terus menumpuk hingga membentuk gunungan di area penampungan.

Selama ini, solusi yang ditawarkan perguruan tinggi lain barulah sebatas mengolahnya menjadi paving block. Namun, olahan paving hanya melibatkan proses fisik dan menyisakan masalah pada air limbahnya.
Tim ITN Malang mengambil langkah yang jauh lebih cerdas dan kompleks. Mereka mengkombinasikan proses mekanik, fisik, dan kimia untuk mengekstrak limbah B3 tersebut menjadi silika gel murni berpori.
Produk ini punya nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi di pasar karena berfungsi sebagai penyerap kadar air, sekaligus menjadi produk substitusi impor untuk mendongkrak Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Baca Juga: Pemkab Mahakam Ulu Percayakan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Dukung Penataan Ruang Long Lunuk ke ITN Malang
“Sejak tahun 2010, background penelitian saya memang fokus di bidang silika. Selama ini belum ada perguruan tinggi yang mengolah limbah sandblasting ini menjadi silika gel. Lewat program ini, limbah yang tadinya bikin pusing industri justru bisa jadi cuan,” ungkap Nanik penuh optimis saat ditemui di Prodi Teknik Kimia akhir Juni 2026.
Perjalanan riset ini sejatinya sudah dimulai sejak 2024 lewat skema Matching Fund. Kala itu, tim berhasil mengonversi limbah menjadi lima produk purwarupa: silika gel, briket, filter air minum, paving dan media tanam.
Memasuki awal tahun 2025, melalui analisis kelayakan yang ketat, silika gel diputuskan sebagai produk yang paling potensial untuk dikomersialkan ke skala industri karena peluang pasarnya sangat menjanjikan.
Pada tahun 2025, tim berhasil menemukan metode sintesisnya, dan di tahun 2026 ini fokus riset beralih pada peningkatan kemurnian serta kapasitas produksi.
Tantangan terbesar dalam hilirisasi tentu saja memindahkan skala laboratorium ke skala industri yang padat modal dan regulasi. Institusi, sebagai agent technology, berkolaborasi dengan mitra industri untuk kelanjutan komersialisasinya.
Sertifikasi TKDN maupun SNI hanya bisa diajukan oleh mitra industri sedangkan institusi menyiapkan produk yang teruji secara laboratorium.
Legalisasi yang dilakukan oleh Institusi adalah melindungi produk yang dihasilkan dengan mendaftarkan Kekayaan Intelektualnya, berupa paten, hak cipta maupun merek.
Kolaborasi ini pun lahir dari cerita yang unik. Manajemen PT DPL awalnya membaca publikasi riset ITN Malang mengenai pengolahan limbah sayur di Sumberejo, Kota Batu.
Kebetulan, Manager QA di PT DPL saat itu adalah Jefri Yonathan Letik, alumnus Teknik Kimia ITN Malang angkatan 2021. Berkat jembatan alumni tersebut, diskusi mengenai penanganan limbah B3 di perusahaan dimulai hingga melahirkan kepercayaan penuh (trust) kepada kepakaran tim dosen Teknik Kimia ITN Malang.
Di area pabrik PT DPL saat ini bahkan sudah dirancang sebuah pilot plant. Perusahaan menyediakan lokasi khusus serta peralatan pendukung untuk menempatkan reaktor skala pilot yang didesain langsung oleh tim ITN Malang demi menggenjot kapasitas dan kemurnian silika.
Program hilirisasi ini juga membawa berkah besar bagi dunia akademik kampus. Kaprodi Teknik Kimia S-1 ITN Malang, Ir. Rini Kartika Dewi, ST., MT., IPM., menjelaskan, keterlibatan mahasiswa dalam proyek ini memberikan pengalaman yang luar biasa mahal. Mereka tidak hanya meneliti, tetapi langsung menyelesaikan masalah nyata di dunia industri.
“Mahasiswa kami mendapatkan fasilitas riset yang lengkap, baik di laboratorium prodi maupun langsung di lapangan bersama PT DPL. Keuntungannya banyak, bahkan ada mahasiswa yang langsung direkrut menjadi karyawan di PT DPL sebelum mereka lulus,” ujar Rini bangga.
Tak hanya itu, hasil riset ini juga sukses dipresentasikan di hadapan Asian Productivity Organization (APO), sebuah organisasi pemerintah regional yang fokus pada produktivitas di Asia Pasifik.
Ke depan, Teknik Kimia ITN Malang berencana membangun startup mandiri untuk mengkomersialkan silika gel ini secara massal. Jika proyek silika gel ini sudah stabil, mereka juga bersiap mengembangkan produk turunan lain dari sisa limbah yang ada, seperti biobriket dan support material berupa katalis untuk energi terbarukan.
Nanik pun membagikan tips bagi rekan-rekan dosen peneliti di ITN Malang agar proposal hibahnya bisa tembus di tingkat kementerian. Kuncinya ada pada kolaborasi lintas disiplin ilmu dan keberanian untuk membuka diri terhadap kebutuhan industri.
“Sebagai agen pengetahuan, dosen harus bisa memberikan solusi langsung atas kendala yang dihadapi masyarakat dan industri. Harapan kami, kita semua bisa saling bergandengan tangan. Tidak mungkin kita menghasilkan inovasi besar jika hanya mengandalkan satu kompetensi saja. Berbagi kompetensi yang beragam akan membuat hasilnya jauh lebih berdampak,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis ITN Malang
Editor: Herlianto. A























