Malang, Tugumalang.id – Universitas Muhammadiyah Malang (Universitas Muhammadiyah Malang) resmi ditunjuk sebagai Chair and Host Institution dalam program Sustainable Water Ecosystem oleh UNESCO. Penunjukan ini punya misi besar menyelamatkan ekosistem air masa depan.
Penunjukan ini perlu melalui perjalanan panjang penguatan riset, inovasi pertanian berkelanjutan, serta pengabdian masyarakat di berbagai daerah. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD., menjelaskan status UNESCO Chair merupakan bentuk kepercayaan global kepada perguruan tinggi yang dinilai mampu menjadi mitra strategis dalam menjalankan program keberlanjutan dunia.
“University Chair itu artinya kampus yang secara resmi dijadikan mitra dalam program-program UNESCO. Di Indonesia, kita hitungannya yang ketiga. Bergabungnya UMM menandai langkah strategis kampus untuk memperluas kontribusi, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional,” ungkap Salis, Minggu (29/2/2026).
Salis menuturkan, upaya masuk dalam jejaring UNESCO berangkat dari visi kampus untuk menghadirkan kontribusi global melalui inovasi berkelanjutan. Berbagai program seperti Green Farming, Smart Farming, hingga pengembangan energi terbarukan mikrohidro menjadi fondasi utama. Meski tidak secara langsung berfokus pada konservasi air, pendekatan tersebut terbukti mampu menjaga ekosistem air secara menyeluruh.
“Kita memang tidak secara khusus merawat air, tetapi melalui Smart Farming dan energi terbarukan itu akhirnya kita menyelamatkan air. Dari yang awalnya dibuang-buang, sekarang diperhatikan,” katanya.
Baca juga: Rekomendasi Nasi Gudeg Enak di Malang yang Wajib Dicoba Para Pecinta Kuliner!
Momen penting terjadi ketika tim UMM melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat di Tabanan, Bali, wilayah yang dikenal dengan sistem pertanian Subak sebagai warisan dunia. Saat itu, pertanian terasering menghadapi ancaman akibat penggunaan pestisida dan alih fungsi lahan menjadi kawasan pariwisata.
“Kalau sawah berubah jadi vila dan petani tidak bertani lagi, daerah resapan air hilang. Kalau tidak ada resapan air, air itu dari mana?” ungkapnya.
Sebagai mitra, UMM memiliki kewajiban mendukung program UNESCO, terutama terkait pelestarian air. Salah satu implementasinya dilakukan di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menerjunkan puluhan dosen untuk membantu masyarakat menemukan sumber air dan memperkuat ketahanan pangan.
“Akar persoalan kemiskinan dan stunting di NTT itu karena tidak ada air. Maka kita membantu mencari titik-titik air di sana,” ujarnya.
Di lingkungan kampus, komitmen tersebut diwujudkan melalui pengelolaan air berbasis hierarki penggunaan. Air dipandang memiliki prioritas sesuai fungsi agar tidak terbuang percuma. ”Air itu sebenarnya ada kastanya. Air minum, air mandi, sampai air untuk mencuci. Jadi tidak boleh sekali pakai,” katanya.
Baca juga: The Alana Hotel Malang Hadirkan Sensasi Kuliner Korea Lewat Menu 60 Seconds to Seoul
Salis menambahkan bahwa pengakuan UNESCO bukan sekadar prestasi, melainkan amanah untuk terus berada di barisan terdepan dalam isu keberlanjutan. Nilai tersebut selaras dengan visi Muhammadiyah tentang “Berkemajuan”, yakni memikirkan masa depan generasi mendatang.
“Kita tidak hanya berpikir hari ini, tetapi 50 tahun, 100 tahun, bahkan 500 tahun ke depan. Anak cucu kita tetap membutuhkan lingkungan yang sustain, termasuk air,” pungkasnya.
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko
























