Malang, Tugumalang.id – Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar seminar bertajuk “Moderasi Beragama dalam Pusaran Geopolitik Global: Dari Dialog Lintas Agama Menuju Ketahanan Bangsa” di Aula Gedung Ir. Soekarno Lantai 5, Kamis (1/10/2026).
Seminar tersebut menghadirkan narasumber dari unsur pemerintah, akademisi, dan organisasi kepemudaan untuk membahas peran moderasi beragama di tengah dinamika konflik global.
Acara dibuka Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Malang, Dr. H. Isroqunnajah, M.Ag. Dalam sambutannya, ia menilai seminar tersebut sebagai agenda strategis. Menurutnya, tema yang diangkat penting untuk merespons berbagai peristiwa dan konflik yang terjadi di sejumlah negara.
Isroqunnajah juga menegaskan inklusivitas UIN Malang. Ia menyebutkan, kampus tersebut menerima mahasiswa dari berbagai negara, mahasiswa nonmuslim, serta mahasiswa dari beragam mazhab dan golongan.
Pembukaan seminar dirangkai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara UIN Malang dan Pusat Pengembangan Kompetensi (Pusbangkom) Kementerian Agama RI.
Baca juga: UIN Malang Dorong UMKM Desa Ngantru Naik Kelas lewat Digitalisasi
Dalam sesi seminar yang dipandu Dr. Jamilah, MA, Staf Khusus Menteri Agama RI, Dr. H. Farid F. Saenong, Ph.D., memaparkan bahwa moderasi beragama kini telah menjadi isu dunia.
Di lingkungan Kementerian Agama, lanjut Farid, moderasi beragama menjiwai Asta Protas atau delapan program prioritas kementerian. Ia juga menyinggung ekoteologi dan Kurikulum Berbasis Cinta dalam kerangka kebijakan tersebut.
Farid menjelaskan, konsep ummatan wasathan dalam Al-Qur’an dapat dimaknai sebagai upright community, yakni komunitas yang berdiri tegak di atas prinsip keadilan dan kesetaraan.
Ia turut mengulas perkembangan moderasi beragama di dunia, khususnya di Indonesia. Menurutnya, gerakan moderasi beragama di Indonesia tergolong unik karena berawal dari praktik keberagamaan masyarakat, lalu diadopsi secara resmi oleh pemerintah. Pemerintah pun berharap moderasi beragama dapat berkembang menjadi gerakan global.
Baca juga: Kunjungan ke Unpad, Fakultas Psikologi UIN Malang Matangkan Persiapan Menuju Akreditasi Unggul
Sementara itu, Ketua Peace Leader Indonesia, Redy Saputro, S.Kom., menempatkan pemuda sebagai subjek perdamaian dunia. Ia menilai pengetahuan dan pengalaman generasi muda dapat menjadi modal untuk mewujudkan perdamaian sehingga peran mereka sangat diharapkan.
Redy juga mendorong pemuda mengoptimalkan media sosial sebagai sarana untuk berperan aktif dalam upaya perdamaian.
Adapun Guru Besar Sosiologi Agama UIN Malang, Prof. Dr. H.M. Zainuddin, MA, menekankan pentingnya peran tokoh agama dalam menjaga kerukunan antarumat beragama. Menurutnya, berbagai bentuk konflik antarumat beragama dapat diselesaikan oleh para pemuka agama itu sendiri.
Senada dengan Redy, Zainuddin menilai media sosial berperan penting dalam merawat kerukunan sehingga harus dimanfaatkan secara bijak. Ia juga menyinggung tiga pusat pendidikan, yakni keluarga, masyarakat, dan sekolah. Dari ketiganya, kata dia, keluarga dan masyarakat merupakan yang paling berpengaruh saat ini.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis UIN Malang
editor: jatmiko


















