Malang – Budidaya ikan di Desa Talangagung, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, mulai mendapat sentuhan teknologi. Melalui Program Mahasiswa Berdampak (PM-BEM) 2025, mahasiswa Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) bersama masyarakat memanfaatkan teknologi smart farming berbasis Internet of Things (IoT) untuk membuat budidaya ikan lebih efektif.
Program ini melibatkan dua mitra, yakni kelompok pembudidaya ikan air tawar POKDAKAN Molek Jaya dan kelompok masyarakat yang mengembangkan usaha kuliner berbasis perikanan POKMAS Anggrungan Maju Bersama. Keduanya memiliki potensi cukup besar, tetapi masih menghadapi kendala produksi, pengelolaan usaha, pemanfaatan teknologi, dan pemasaran.
“Bagi kami sebagai mahasiswa yang terlibat langsung, kegiatan ini menjadi pengalaman yang berbeda. Kami tidak hanya datang untuk menjalankan program, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana masyarakat menjalankan usaha dan apa saja yang menjadi kendalanya. Dari situ, program kemudian disusun agar teknologi dan pelatihan yang diberikan benar-benar bisa digunakan oleh mitra,” kata Seilla Eka Ardilla, salah satu mahasiswa Unikama.
Seilla bersama empat temannya, yakni Andi Nu Graha, Syahminan, Enike Dwi Kusumawati, dan Maris Kurniawati, juga memberikan pendampingan tentang pemanfaatan teknologi dalam budidaya ikan.
Sebelum program berjalan, kegiatan budidaya ikan di POKDAKAN Molek Jaya masih dilakukan secara sederhana. Pemberian pakan dilakukan manual dan pemantauan kualitas air belum menggunakan teknologi.
Pemanfaatan alat teknologi tepat guna juga masih terbatas karena belum tersedianya alat dan pengetahuan yang cukup.
Baca juga: Mahasiswa Unikama Bantu Transformasi Desa Mbaran
Teknologi untuk Memantau Kondisi Kolam
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan tim PM-BEM mengenalkan sistem smart aquaculture berbasis IoT. Teknologi yang diterapkan berupa auto feeder tenaga surya, sensor pH dan suhu, serta sistem yang terhubung dengan aplikasi Android untuk membantu memantau kondisi kolam.
Penerapan teknologi dilakukan secara bertahap. Tim bersama mitra memasang perangkat sekaligus memberikan penjelasan mengenai cara penggunaan dan perawatannya.
Masyarakat tidak hanya menerima alat, tetapi juga belajar bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam kegiatan budidaya sehari-hari.
“Bagian ini cukup menarik karena teknologi yang biasanya identik dengan perangkat digital ternyata bisa diterapkan pada kegiatan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, yaitu mengelola kolam ikan,” ujarnya.
Program PM-BEM tidak berhenti pada penerapan teknologi. Tim juga memberikan sejumlah pelatihan sesuai kebutuhan mitra, mulai budidaya ikan, kewirausahaan sosial, manajemen usaha, literasi keuangan digital, branding, hingga pemasaran online.
Hal itu dilakukan karena penggunaan teknologi saja belum cukup. Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan mengelola usaha, mencatat pemasukan dan pengeluaran, merencanakan kegiatan, serta menentukan langkah pengembangan usaha.
Sebelum pendampingan, pencatatan produksi dan keuangan mitra belum dilakukan secara rutin. Perencanaan usaha juga belum terdokumentasi dengan baik.
Setelah program berjalan, mitra mulai diarahkan memiliki perencanaan usaha, jadwal kegiatan, pencatatan produksi dan keuangan, serta evaluasi usaha secara lebih teratur.
“Perubahan seperti ini memang tidak langsung terlihat besar. Namun, justru dari hal-hal sederhana tersebut usaha bisa mulai berjalan lebih terarah dan tidak hanya mengandalkan kebiasaan yang sudah dilakukan sebelumnya,” ungkapnya.
Potensi ikan yang dimiliki masyarakat juga dikembangkan melalui pengolahan produk. Dalam kegiatan pelatihan, masyarakat mendapatkan kesempatan belajar mengolah hasil perikanan menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Beberapa produk yang dikembangkan antara lain nugget ikan gurame, dimsum ikan gurame, abon ikan gurame, dan wonton ikan gurame. Produk tersebut kemudian diarahkan untuk dipasarkan secara langsung maupun melalui media sosial seperti WhatsApp dan Instagram.
Pengembangan produk ini menjadi salah satu bagian penting karena hasil budidaya tidak hanya berhenti sebagai ikan segar. Dengan pengolahan yang tepat, ikan dapat menjadi produk baru yang memiliki peluang dipasarkan kepada konsumen lebih luas.
Baca juga: Resmi Diluncurkan, 15 Mahasiswa Unikama Ikuti Program KKN dan PLP Internasional di Malaysia
Selain produk, tim juga membantu mitra mengenal pentingnya branding. Sebelumnya, pemasaran masih cenderung konvensional dan identitas produk belum terlalu kuat.
Melalui pendampingan, mitra mulai dikenalkan dengan logo, label, katalog digital, serta pemanfaatan media sosial untuk promosi.
Setelah berbagai kegiatan dilakukan, mulai pelatihan, pemasangan teknologi, hingga pendampingan, program menunjukkan beberapa hasil positif.
Pada POKDAKAN Molek Jaya, penggunaan teknologi smart aquaculture mampu meningkatkan efisiensi pakan hingga 40 persen. Tingkat kematian ikan juga berhasil ditekan hingga di bawah 10 persen, sementara produksi budidaya mengalami peningkatan sekitar 60 persen.
Sementara itu, pada POKMAS Anggrungan Maju Bersama berhasil dikembangkan tiga produk olahan ikan bernilai tambah. Kemampuan anggota dalam mengelola usaha dan melakukan pencatatan keuangan juga mulai mengalami peningkatan.
“Pengabdian kepada masyarakat bukan hanya tentang menjalankan program yang sudah direncanakan. Di lapangan, ada banyak hal yang harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat,” tuturnya.
“Kami belajar bagaimana berkomunikasi dengan mitra, mendampingi peserta saat pelatihan, membantu penggunaan teknologi, sampai memastikan kegiatan dapat berjalan sesuai kebutuhan,” sambungnya.
Ia juga belajar bahwa sebuah program akan lebih mudah diterima ketika masyarakat ikut terlibat sejak awal. Teknologi yang diberikan juga bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat bisa memahami dan memanfaatkannya untuk mendukung kegiatan mereka.
Program PM-BEM di Desa Talangagung menunjukkan bahwa teknologi bisa menjadi salah satu cara membantu masyarakat mengembangkan potensi yang sudah mereka miliki.
Budidaya ikan yang sebelumnya banyak dilakukan secara konvensional mulai dikenalkan dengan teknologi monitoring dan pemberian pakan otomatis. Hasil ikan juga mulai dikembangkan menjadi produk olahan. Sementara pengelolaan usaha dan pemasaran mulai diarahkan ke sistem yang lebih tertata dan digital.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko




























