Malang, Tugumalang.id – Banyak orang beranggapan bahwa seiring bertambahnya usia, kemampuan belajar ikut menurun. Namun, Dr. Lila Landowski, seorang neurosaintis sekaligus dosen asal Australia, mematahkan mitos tersebut dalam presentasi TEDx bertajuk “Brain Hack: 6 Secret to Learning Faster, Backed by Neuroscience”. Ia menegaskan bahwa kunci belajar cepat terletak pada pemahaman cara kerja otak.
Landowski menjelaskan bahwa inti dari proses belajar adalah neuroplastisitas. Ia menyebut, “Neuroplasticity is the scientific term that essentially means our brain’s ability to physically change in response to experience.”
“Neuroplasticity merupakan istilah ilmiah yang mengacu pada kemampuan otak kita untuk mengalami perubahan fisik sebagai respons terhadap pengalaman.”
Menurutnya, saat belajar, terbentuk koneksi bernama sinapsis di antara 86 miliar neuron di otak. Untuk memaksimalkan proses ini, ada enam rahasia neurosains yang dapat diterapkan.
Enam Rahasia Neurosains
1. Attention
Di tengah derasnya distraksi digital, perhatian menjadi semakin sulit dijaga. Kebiasaan scrolling media sosial dapat menurunkan fokus secara signifikan. Akibatnya, saat belajar, kita tidak lagi mampu berkonsentrasi penuh pada tugas.
Padahal, otak dirancang untuk fokus pada satu hal dalam satu waktu.
“We are designed to focus on one thing at a time,” tegasnya.
Untuk meningkatkan fokus, Landowski menyarankan olahraga selama 20 menit sebelum belajar. Aktivitas fisik ini terbukti dapat meningkatkan ukuran bagian otak yang berperan dalam memori serta mempertajam fokus hingga dua jam setelahnya.
2. Alertness
Tingkat kewaspadaan tidak stabil sepanjang hari. Manusia mengikuti ultradian rhythm, yaitu siklus alami di mana setiap 90 menit kita masuk dan keluar dari fase waspada.
Karena itu, tubuh tidak bisa dipaksa berada dalam kondisi siaga penuh sepanjang waktu. Untuk meningkatkan kewaspadaan secara cepat, Landowski menyarankan stimulasi sistem saraf simpatik melalui teknik pernapasan atau mandi air dingin.
Namun, ia mengingatkan, “Too much stress is harmful,” karena stres kronis justru merusak struktur otak dan memori.
Baca juga: Sering Terdistraksi? Ini Rekomendasi Aplikasi untuk Fokus Belajar
3. Sleep
Masih banyak mahasiswa yang menganggap begadang sebagai solusi belajar. Padahal, kebiasaan ini justru bisa menjadi kesalahan besar.
Landowski menekankan pentingnya tidur dalam proses penguatan memori. Hipokampus berfungsi sebagai penyimpan memori jangka pendek, lalu saat tidur, informasi tersebut dipindahkan ke korteks menjadi memori jangka panjang.
“If you don’t sleep, you won’t retain information well,” ujarnya.
Tanpa tidur, informasi yang dipelajari hanya bertahan sementara dan mudah hilang.
4. Repetition
Repetisi berperan penting dalam memperkuat sinapsis sehingga informasi lebih mudah diingat kembali. Namun, banyak orang hanya berlatih tanpa memperhatikan pola pengulangan.
Landowski menyarankan metode spaced repetition atau pengulangan berjarak, yaitu membagi waktu belajar ke dalam beberapa sesi pendek di hari berbeda. Cara ini jauh lebih efektif dibandingkan satu sesi panjang dalam satu hari karena memberi waktu bagi otak memperkuat koneksi saraf secara bertahap.
5. Breaks
Istirahat menjadi bagian penting dalam proses belajar. Setelah sesi yang intens, disarankan mengambil jeda selama 10 hingga 20 menit tanpa menyentuh gadget.
Pada fase ini, otak secara alami melakukan replay terhadap informasi yang baru diterima dan menstabilkannya. Jeda bukan pemborosan waktu, melainkan kesempatan bagi otak untuk memproses informasi secara lebih dalam.
6. Mistake
Kesalahan sering kali membuat seseorang merasa rendah diri saat belajar. Namun, Landowski menegaskan bahwa kesalahan justru memiliki peran penting dalam proses pembelajaran.
Secara biologis, saat melakukan kesalahan, otak melepaskan sinyal kimia yang meningkatkan perhatian agar tidak mengulanginya. Sebaliknya, ketika berhasil, otak melepaskan dopamin sebagai bentuk penghargaan.
“If you make a mistake, your brain learns. If you get it right, your brain rewards you.”
Jika melakukan kesalahan, otak akan belajar. Jika benar, otak memberikan imbalan berupa dopamin.
Dengan mengombinasikan enam prinsip ini, potensi otak dapat diasah kembali secara optimal. Seperti disampaikan Dr. Landowski, memahami mekanisme saraf menjadi kunci untuk menjadi pembelajar yang lebih tangguh dan efisien di usia berapa pun.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: ‘Isyatur Rodhiyah/Magang
redaktur: jatmiko


















