Lompat Tinggi, Buat Lebih Rendah

  • Whatsapp
Faizal Alfa (ilustrasi: Dicky/Tugumalang)

Faizal Alfa*

Pernah olahraga lompat tinggi? Ingat ingat dulu waktu ujian praktek olah raga, mata pelajarannya namanya : penjaskes. Atau kalau benar benar tidak pernah, minimal, pernah lihat olahraga lompat tinggi kan?

Bacaan Lainnya

Kali ini, lompat tinggi Kita jadikan analogi. Ada palang atau bar yang memisahkan, sebagai rintangan yang perlu dilampaui.

Dikutip dari unggahan di akun instagram @alfafaizal

Situasinya? Persis sama antara penjual dengan pembeli, ada pagar yang memisahkan. Semakin tinggi pagarnya, semakin besar upaya pembeli untuk melewati pagar tersebut, agar sampai pada Kita sebagai penjual.

Pagar adalah : harga!

Semakin tinggi harga, semakin besar upaya sang pembeli untuk mampu melewatinya. Pagar seleher, tentu lebih susah dilewati daripada pagar sepinggang, apalagi pagar selutut.

Dari situasi tersebut, lahirlah upaya membikin pagar agar lebih rendah, yakni sebuah teknik marketing yang disebut : diskon, atau potongan harga.

Pagar seleher, jadi pagar sepinggang, dengan diskon 40%. Sudah bisa membayangkan?

Apa tujuannya? Di tahap awal, misalnya sebuah usaha baru buka, atau, rilis pengenalan menu baru, tahap ini disebut sebagai upaya akuisisi. Bagaimana caranya masuk dulu, nyicip, merasakan dulu, agar konsumen mendapatkan experience, dengan resiko terkecil.

Beberapa brand bahkan memilih untuk membongkar rendah pagarnya, atau membuka lebar pintu gerbangnya. Dengan cara apa? Giveaway, atau, free sample. 100, 300, 500, 1.000, 1.000.000 Produk Gratis.

Kalau cerdas, jadinya nggak gratis juga kok, tapi nggak perlu nipu, dengan pembeli tetap ikhlas menjalani. Misalnya? Gratis kopi, ambil di outlet sesuai jadwal yang ditentukan, saat di lokasi, kasir aktif melakukan persuasi : selamat Kak, dapat kopi gratisnya. Sekalian nambah order pizza atau rice bowl Kak untuk makanannya? Akhirnya, ya jadi omzet juga. Halus dengan prosesi mulus.

Baca Juga  Sejumput Garam Marketing

Catatannya 3 :
1. Jangan beri diskon pada orang yang memang gak mampu beli, ntar malah sakit ati, harga balik normal, dia gak belanja.
2. Jangan sering-sering, malah aneh dan bikin curiga.
3. Kalau belom paham cara mainnya, biar dihandle sama ahlinya.

Salam Pertumbuhan!

*PT Fortuna iMARKS Trans
Perusahaan Pemasaran Yang Membanggakan Kota Malang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *