Bupati Malang Bilang Sawit Bisa jadi Solusi Banjir, Longsor dan Oksigen

  • Whatsapp
Foto dari Humas Protokol

MALANG – Di tengah  banyaknya protes terkait rencana pembangunan pabrik kelapa sawit dan memperluas lahan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Malang. Bupati Malang terus meyakinkan jika tanaman asal Nigeria ini tidak memiliki dampak lingkungan yang dikhawatirkan para aktivis lingkaran hingga masyarakat lokal sendiri.

Sanusi, dalam sambutannya di Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2021-2022 di Hotel Ijen Suite beberapa waktu bahkan mengatakan jika sawit bisa menjadi solusi banjir.

Bacaan Lainnya

“Menurut saya lebih bagus kalau (ditanam) di daerah yang kemiringannya curam agar tidak banjir. Banjir longsor itu karena tanaman di atasnya itu habis,” terangnya.

Sanusi juga mempertegas bahwa akar kelapa sawit memiliki bentuk dan jenis yang sama persis seperti akar yang dimiliki kelapa biasa.

“Pak Sandi (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) kemarin menyampaikan waktu di Batu, saya tanyakan ke beliau (apakah) kelapa sawit menghabiskan air, lalu beliau bilang itu hoaks. Justru Lahan-lahan yang tidak produktif nanti bisa menghasilkan secara ekonomi,” ungkapnya.

Alumni Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran ini bahkan mengatakan jika sawit yang ditanam di Malang Selatan tidak menimbulkan dampak lingkungan sama sekali.

“Apa dampaknya? Itu kan hanya khawatir saja, kelapa sawit tumbuh dimana-mana, sudah berjalan di Kalipare, Donomulyo Pagak,” tegasnya.

“Tidak ada gangguan lingkungan, malah menimbulkan oksigen lebih bagus karena tanamannya bagus. Bisa mencegah banjir dan oksigen bagus karena mereka tumbuh dengan lebat,” sambungnya.

Lebih lanjut, ia juga menyampaikan jika akan memanfaatkan tanah-tanah tidak terpakai di sepanjang Kecamatan Ampelgading sampai Kecamatan Kalipare.

Baca Juga  Banser Malang Adukan Idris Al-Marbawi ke Polisi Terkait Video Hoaks Penembakan

“Untuk lahan tidak terpakai yang digunakan mulai dari Ampelgading sampai Kalipare, luasnya hampir 40 ribu sampai 60 ribu hektare,” bebernya.

Terakhir, pengusaha tebu asal Gondanglegi ini menjelaskan bahwa megaproyek akan mulai dijalankan menunggu instruksi dari pemerintah pusat.

“Menunggu menteri, karena ini program pusat, ini bukan program kabupaten dan perlu digarisbawahi ini semua programnya pusat. Kita hanya menyediakan lahan yang tidur itu supaya nanti masyarakat lebih produktif,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *