Akademisi UB Terlibat dalam Perumusan Forum Komunikasi Nasional POKMAS LIPAS

  • Whatsapp
Rapat Kerja Nasional Pengembangan Kelompok Masyarakat Peduli Pemasyarakatan (POKMAS LIPAS) Ditjen Pemasyarakatan yang dilaksanakan 2-4 Juni 2021, di Hotel Pullman Jakarta. foto/istimewa

MALANG — Dosen memiliki tugas yang tidak hanya pada tri dharma, namun juga diperkaya dengan tugas-tugas lainnya seperti terlibat dalam berbagai kegiatan berkarya lainnya. Hal itupun yang dilakukan  Ilhamuddin, M.A, salah satu dosen di Jurusan Psikologi FISIP Universitas Brawijaya.

Ilham, menjadi salah satu peserta Rapat Kerja Nasional Pengembangan Kelompok Masyarakat Peduli Pemasyarakatan (POKMAS LIPAS) Ditjen Pemasyarakatan yang dilaksanakan 2-4 Juni 2021, di Hotel Pullman Jakarta. Kegiatan tersebut melibatkan 3 (tiga) elemen, yaitu Kepala BAPAS se-Indonesia, Perwakilan Pemerintah Daerah, dan POKMAS se-Indonesia.

Bacaan Lainnya

Ilhamuddin, M.A, salah satu dosen di Jurusan Psikologi FISIP Universitas Brawijaya

“Saya hadir mewakili POKMAS dari UB. Ini juga sebagai tindak lanjut adanya kesepakatan kerjasama antara FISIP UB dengan BAPAS (Balai Pemasyarakatan) Klas 1 Malang” jelas Ilham. “Rapat Kerja Nasional ini membahas beberapa agenda pokok, yaitu pembahasan keberlanjutan program POKMAS LIPAS, pembahasan model-model sinergi antara BAPAS, PEMDA, dan POKMAS, dan perumusan rekomendasi pembentukan Forum Komunikasi POKMAS LIPAS nasional,” lanjut Ilham.

Ilhamuddin dan Pangeran M. Kamal (perwakilan POKMAS dari BAPAS Cirebon), menjadi perwakilan POKMAS yang menyampaikan paparan rekomendasi hasil sidang POKMAS. Dalam paparannya, Ilham meminta kepada Ditjen Pemasyarakatan untuk membentuk Forum Komunikasi Nasional POKMAS LIPAS yang memiliki legal standing yang jelas. Dengan dasar tersebut maka POKMAS LIPAS mendapatkan kepastian untuk melaksanakan berbagai program pendampingan dan pelatihan bagi klien BAPAS. Selain itu, Ilham juga memaparkan Program Kemandirian, Program Kepribadian, Program Hukum, dan Program Kemasyarakatan.

Ilham berharap dengan semakin terbukanya kolaborasi dan sinergi dengan berbagai stakeholder, maka civitas akademika dapat terus terlibat aktif dalam menyelesaikan berbagai problematika sosial sesuai kapasitas keilmuan masing-masing. “Jika akademisi hanya fokus di kampus dan tidak pernah melihat realitas problematika sosial, maka ilmu hanya akan tersisa di pikiran dan tidak memberikan kemaslahatan yang luas bagi umat manusia,” Tambah Ilham sambil mengakhiri penjelasannya.

Baca Juga  Penerimaan Tertinggi di Indonesia, Universitas Brawijaya Terima 6.033 Maba Jalur SBMPTN 2021

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *